Latarbelakang Terbentuknya ASEAN


Berakhirnya Perang Dunia II berlanjut dengan perang ideologi antara AS dan Uni Soviet menjadikan kawasan Asia Tenggara sebagai lahan pertempuran ideologi. Kawasan ini pernah dijuluki “Balkan-nya Asia” (Selayang Pandang ASEAN, 2008). Perkembangan menarik di kawasan Asia Tenggara pasca Perang Dunia II yaitu terbentuknya organisasi regional. Kerjasama regional di kawasan Asia Tenggara didirikan oleh 5 negara yaitu Indonesia, Malaysia, Philippina, Singapura dan Thailand dengan nama ASEAN (Assosiation of Southeast Asia Nations) atau Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara.

ASEAN (Assosiation of Southeast Asia Nations) atau Asosiasi Bangsa Bangsa di Asia Tenggara didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 dengan ditandatangani Deklarasi Bangkok di Bangkok, Thailand. Menurut Mohamad Ghazalie Shafie, ( dalam Acharya, 2001) deklarasi Bangkok diberinama deklarasi (declaration) bukan perjanjian (treaty) sangatlah signifikan karena ‘treaty presupposes lack of trust’. Lebih lanjut, penyebutan nama “asosiasi”(dalam Association of Southeast Asian Nation) sangat bermakna untuk membedakan bentuk ASEAN dari organisasi lain dan dalam hal ini berarti pula adanya kelonggaran dan informalitas. Adanya kelonggaran dan informalitas sangat penting untuk eksistensi ASEAN yang memiliki banyak memiliki banyak perbedaan tidak hanya dari segi budaya namun juga bahasa, etnik dan kesejarahan.
Berdasarkan deklarasi Bangkok tedapat beberapa tujuan pembentukan ASEAN antara lain (Deklarasi Bangkok, 1967) :

1. Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya di kawasan melalui serangkaian kerjasama dalam semangat kesetaraan dan persahabatan untuk memperkuat fondasi terbentuknya komunitas yang aman dan sejahtera.

2. Memelihara perdamaian dan stabilitas kawasan dengan menjunjung tinggi hukum dalam hubungan antar negara dan penghargaan terhadap piagam PBB.

3. Meningkatkan kerjasama yang aktif dan saling membantu dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, teknik dan ilmu pengetahuan serta administrative.

4. Saling memberikan bantuan fasilitas pelatihan dan penelitian dalam bidang pendidikan, professional, teknis dan administratif.

5. Bekerjasama yang lebih efektif untuk memperoleh manfaat yang lebih besar dalam bidang pertanian dan industry, perkembangan perdagangan termasuk studi mengenai perdagangan komoditas internasional, peningkatan fasilitas transportasi dan komunikasi dan meningkatkan standar hidup masyarakat

6. Mempromosikan studi mengenai Asia Tenggara

7. Memelihara kerjasama yang erat dan saling menguntungkan dengan organisasi internasional dan regional lain yang memiliki maksud dan tujuan yang sama dan mengeksplorasi semua semua kemungkinan untuk kerjasama yang lebih intensif diantara mereka.

Kawasan Asia Tenggara, secara geopolitik dan geoekonomi memiliki nilai strategis sehingga menjadi incaran negara-negara besar. Rivalitas great power sangat nampak dengan terjadinya Perang Viet Nam dan juga pembentukan South East Asia Treaty Organization (SEATO). Selain itu, munculnya permasalahan antar negara seperti konfrontasi, masalah perbatasan dan separatism turut andil dalam pembentukan kerjasama regional. Menurut Menlu Thailand, Thanat Khoman (dalam Severino, 2006) menyebutkan alasan terbentuknya ASEAN “was the fact that, with the withdrawal of the colonial powers, there would have been a power vacuum which could have attracted outsiders to step in political gains.”

Menurut Acharya (2000), berdirinya ASEAN didorong oleh beberapa perubahan di Asia Teggara. Pertama, perubahan rezim di Indonesia sebagai pendorong utama dalam pembentukan ASEAN. Pergantian rezim Soekarno kepada Soeharto mendorong perubahan prioritas dalam politik Luar Negeri Indonesia. Semangat Indonesia untuk mendorong pembentukan ASEAN dilatarbelakangi oleh beberapa hal, antara lain ASEAN dipandang sebagai upaya Indonesia dalam mengakhiri konfrontasi, ASEAN sebagai pendorong rencana pembangunan nasiional untuk mendorong terciptanya stabilitas domestik dan legitimasi bagi tatanan rezim orde baru, ASEAN merupakan batu loncatan bagi Indonesia untuk menunjukkan kepemimpinannya di Asia Tenggara dengan penerimaan dan partisipasi dari negara tetangga di Asia Tenggara.

Kedua, perubahan pola rivalitas “great power” di Asia Tenggara. Keretakan hubungan Sino-Soviet dan kompetisi antara keduanya memunculkan kesadaran bagi ASEAN untuk bersama-sama merespon rivalitas tersebut. Kompetisi antara Sino-Soviet dapat dilihat dari pencarian pengaruh Soviet dalam lingkup regional melalui pembangunan jaringan di Indochina dan upaya Soviet untuk mewujudkan ”Asian Collective Security Arrangement” serta peringatan Cina atas hegemoni Soviet memunculkan kesadaran bagi ASEAN akan perlunya respon bersama terhadap munculnya bentuk baru rivalitas ”great power”. Rivalitas Cina-Uni Soviet dan Amerika Serikat- Uni Soviet serta Amerika Serikat-Cina mewarnai pola rivalitas di kawasan Asia Tenggara yang memunculkan kekhawatiran bagi negara-negara ASEAN jika mereka-great power mengabaikan keamanan kawasan.

Ketiga, persepsi ancaman bagi anggotanya. Adanya ancaman dari luar memberikan persepsi ancaman yang berbeda bagi negara-negara ASEAN seperti halnya potensi ancaman Cina dipandang cukup serius oleh Indonesia dan Malaysia dibandingkan dengan negara ASEAN yang lain. ASEAN lebih konsern pada ancaman internal dan disatukan oleh adanya kepentingan bersama dalam mencegah perubahan politik internal yang radikal. Kemenangan komunis di Indocina menjadi perhatian para pemimpin ASEAN. Ciri khas kerjasama ASEAN pada awal pembentukannya dengan melakukan kerjasama keamanan bilateral didukung adanya konsern ideologi dan politik bersama dalam menentang komunisme.

Keempat, polarisasi ideologi. Bantuan dari negara superpower secara umum menyebabkan polarisasi ideologi di Asia Tenggara, khususnya bagi negara ASEAN yang pro barat, bantuan ekonomi juga berperan dalam peningkatan ekonomi dan rezim keamanan yang pada gilirannya mendorong basis fundamental ASEAN dalam menciptakan tatanan regional. Perang Vietnam telah membantu pertumbuhan di Asia Tenggara seperti halnya Singapura dan Thailand. Pada saat penarikan diri AS dari Indocina mendorong kerjasama regional dari beberapa negara yang sebelumnya menggantungkan keamananan kepada AS, pengeluaran dan bantuan Amerika Serikat pada era perang di Indocina mendorong pertumbuhan ekonomi yang kondusif dalam ideologi ekonomi yang moderat dan juga regionalisme berbasis pasar yang direpresentasikan oleh ASEAN. Demikian halnya, Cina dan Uni Soviet mengikat negara-negara di Indocina (walaupun dalam tawaran mereka mengalami kegagalan seperti halnya bantuan ke yang diberikan ke Birma dan Indonesia, Cina dan Uni Soviet memberikan bantuan kepada Vietnam pada periode 1955 – 1975). Hal ini mendorong terjadinya polarisasi ideologi yang direpresentasikan oleh ASEAN dan upaya ASEAN untuk membendung ideologi komunisme menjadi dasar kerjasama ASEAN pada awal pembentukannya.

Kelima, pemusatan kebijakan pertumbuhan ekonomi. Evolusi perekonomian di Asia Tenggara pasca perang mengalami tiga tahap. Tahap pertama, adalah tahap rekonstruksi dan rehabilitasi yang dilanjutkan dengan industri subtitusi impor (ISI). Tahap ketiga adalah industri yang berorientasi pada ekspor yang kemudian menjadi ciri pertumbuhan ekonomi politik di Asia Tenggara pada akhir 1970an walaupun Singapura telah menjalankannya pada pertengahan 1960an. Strategi ISI yang dijalankan oleh Filipina, Malaysia dan Thailand pada era 1960 an belum berhasil, negara-negara ASEAN telah dihadapkan pada perubahan struktur global melalui lembaga global seperti Bank Dunia dan IMF yang mendorong ASEAN melakukan liberalisasi dan menerapkan strategi ”export led-development”. Pada akhir 1960 an, ASEAN mengalami perbedaan pertumbuhan ekonomi. Singapura, Malaysia dan Thailand menujukkan performa ekonomi yang cukup bagus demikian halnya dengan Indonesia yang mulai menarik investasi asing, memperbaiki pendidikan dan standar hidup. Filipina mengalami stagnasi dalam bidang ekonomi dan perekonomian negara-negara Indocina mengalami keterpurukan akibat perang. Perang di Indocina mengisyaratkan kepada negara-negara di ASEAN akan pentingnya mendorong ekonomi pasar bebas. Para pemimpin ASEAN menyadari bahwa perekonomian berbasis komunisme telah menyebabkan keterpurukan ekonomi dan masalah sosial seperti kemiskinan dan kesenjangan sosial.

Daftar Pustaka
Acharya, Amitav. (2001). Constructing a Security Community in Southeast Asia: ASEAN and the Problem of Regional Order. New York: Routledge

Acharya, Amitav. (2000). The Quest For Identity. Singapore: Oxford University Press
Departemen Luar Negeri Republik Indonesia. (2008). Selayang Pandang ASEAN. Jakarta: Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN

Deklarasi Bangkok diakses dari http://www.aseansec.org/1212.htm,[ akses, 13 Oktober 2010]
Rodolfo C, Severino. (2006). Southeast Asia in Search of an ASEAN Community. Singapore: ISEAS